You are currently viewing Seperti Apa Hukum Bayar Zakat Lebih Awal?

Seperti Apa Hukum Bayar Zakat Lebih Awal?

Pertanyaan tentang bayar zakat lebih awal dari waktunya mungkin pernah terlintas di benak kamu setelah tahun 2020 lalu Pemerintah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk membayar zakat lebih awal. Lantas bagaimana Islam memandang imbauan ini?

Zakat Lebih Awal dan Anjuran Pemerintah

Imbauan pemerintah tentang zakat lebih awal melalui SE Menteri Agama NO.6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadhan di Tengah Wabah COVID-19 tertulis: 

“Mengimbau kepada segenap umat Muslim agar membayarkan zakat hartanya segera sebelum puasa Ramadhan sehingga bisa terdistribusi kepada Mustahik lebih cepat.”

Makna zakat harta pada imbauan pemerintah di atas adalah zakat mal. Zakat mal adalah zakat yang ditunaikan oleh perorangan atau lembaga berdasarkan penghasilan yang didapatkannya.  

Pemerintah melalui kementerian agama juga mengajak kaum Muslim untuk menggencarkan amalan berbagi lain seperti wakaf, sedekah, dan infak sebagai solusi dalam mengeluarkan suadara-saudara kita dari kesulitan. 

Dalil Mengeluarkan Zakat Lebih Awal 

Mayoritas ulama berpendapat bahwa berzakat lebih awal sebelum memperoleh haul (1 tahun) dan sudah mencapai nishab hukumnya boleh. Konsepnya sama dengan membayar utang sebelum masa tenggangnya (jatuh tempo). 

Berdasarkan hadists Riwayat Turmudzi 680, ad-Darimi 1689 yang dihasankan oleh al-Albani, Ali Bin Abi Thalib, menunaikan zakat lebih awal hukumnya juga boleh. Tetapi dengan catatan, seseorang yang ingin melakukannya sudah memiliki harta yang telah mencapai nishab. 

Berikut hadists Riwayat Turmudzi 680: 

“Al ‘Abbas bertanya kepada Nabi SAW bolehkah mendahulukan penunaian zakat sebelum mencapai haul. Kemudian Rasulullah SAW memberikan keringanan dalam hal itu. ” 

Saat ini, masyarakat bisa menunaikan zakat lebih melalui zakat online seperti di Digizakat. Sehingga, umat Islam bisa lebih mudah menuntaskan kewajiban zakatnya dengan hanya bermodalkan smartphone dan koneksi internet.