
Bersama Bantu Sumatera Bangkit

Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional mengingatkan kita tentang satu hal sederhana: bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri. Bahwa di negeri ini, selalu ada tangan yang terulur ketika yang lain jatuh.
Namun, di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, banyak keluarga masih menjalani hari-hari yang berat setelah bencana berlalu. Air memang sudah surut, tanah longsor telah berhenti, tetapi kehidupan belum sepenuhnya kembali. Yang tertinggal bukan hanya kerusakan fisik, melainkan hilangnya sumber penghidupan, warung kecil yang tak lagi berdiri, lahan yang tak bisa ditanami, ternak yang tak kembali.
Seorang ibu kehilangan tempatnya berdagang. Dari sanalah ia biasa membeli beras, membayar sekolah anaknya, dan menyambung hidup hari demi hari. Kini ia harus memulai dari nol. Seorang petani memandang lahannya yang berubah menjadi lumpur dan batu. Bukan hanya panen yang hilang, tetapi harapan akan masa depan keluarganya.
Seorang peternak kehilangan seluruh ternaknya. Aset yang selama ini menjadi penyangga hidup dan pendidikan anak-anaknya. Mereka tidak sedang mencari belas kasihan. Mereka hanya ingin bisa melanjutkan hidup. Ingin kembali bekerja, berusaha, dan berdiri dengan usaha mereka sendiri.
Karena itu, penggalangan dana ini hadir bukan hanya untuk memberi bantuan sesaat, tetapi untuk mendampingi proses bangkit. Membantu mereka memulihkan usaha, mendapatkan kembali modal, dan menata ulang kehidupan yang sempat runtuh. Ini tentang pemberdayaan, tentang mengembalikan kesempatan.
Solidaritas tanpa batas berarti tidak berhenti peduli ketika bencana selesai diberitakan. Ia berarti tetap hadir, meski perlahan, hingga kehidupan benar-benar pulih.
Setiap sumbangan menjadi bagian dari perjalanan itu. Menjadi gerakan nyata agar sebuah warung bisa dibuka kembali, lahan bisa diolah lagi, dan harapan bisa tumbuh secara perlahan.
Dari kita, untuk mereka. Agar Sumatera dapat bangkit kembali, dengan kekuatan dan martabatnya sendiri.
-
Januari, 13 2026
Campaign is published
