You are currently viewing Asbabunnuzul Al-Qodar

Asbabunnuzul Al-Qodar

Asbabun Nuzul Surat al-Qadar
Surat al-Qadr adalah surat ke-97 menurut urutannya di dalam mushaf. Ia
ditempatkan sesudah surat Al-Alaq. Surat ini diperselisihkan masa turunnya. Ada
yang berpendapat ia turun sebelum Nabi berhijrah, ada juga yang berpendapat
sesudahnya. Melihat isi kandungan surat al-Qadr yang membicarakan tentang
lailat al-Qadar yang merupakan salah satu malam di bulan Ramadhan, dan
mengingat bahwa kewajiban berpuasa baru ditetapkan pada tahun kedua hijriyah,
maka cukup beralasan pendapat ulama yang menyatakan surat ini Madaniyyah.
Pendapat yang menyatakan surat ini Makkiyyah, menilainya sebagai surat
yang ke-24 atau 25 dari segi perurutan turunnya wahyu, dan bahwa ia turun
setelah surat „Abasa dan sebelum surat asy-Syams. Sedangkan yang menyatakan
Madaniyyah menilainya turun sebelum surat al-Baqarah dan sesudah surat alMuthaffifin.11
Asbabun nuzul mengenai surat al-Qadar tentang lailatul qadar terdapat
beberapa pendapat, antara lain: Mujahid berkata: “ada laki-laki dari bani Israil
yang pada malam harinya ia beribadah hingga pagi, kemudian pagi harinya ia
berjihad hingga sore, hal yang seperti itu dilakukan selama 1000 bulan, maka
Nabi Muhammad SAW dan orang-orang muslim merasa kagum dengan apa yang
dilakukan oleh laki-laki dari bani Israil tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini,
yaitu lailatul qadar pada umatmu (Muhammad) jauh lebih baik dari pada laki-laki
bani Israil yang membawa pedang selama 1000 bulan. Malik bin Annas berkata:
“aku mengira Rasulullah itu sebagai orang yang panjang umurnya, maka aku
menganggap umat Nabi Muhammad pendek umurnya, dan aku takut umat Nabi
tidak dapat menyamai umur umat yang lain. Maka Allah memberikan lailatul qadar kepada umat Nabi Muhammad yaitu lailatul qadar lebih baik dari seribu
bulan umur umat yang lain.

Sebuah riwayat yang dikeluarkan dari at-Tirmidzi dan al-Hakim dan Ibnu
Jarir dari Hasan bin Ali sesungguhnya malam lailatul qadar itu lebih baik dari
pada seribu bulan, dan diturunkannya surat ini sebab masa pemerintahan bani
Umayyah selama 1000 bulan, akan tetapi hadis ini hasan ghorib dan munkar
jiddaan. Adapun sebuah riwayat yang dikeluarkan dari Ibnu Abi Hatim dan AlWahidi dari mujahid: sesungguhnya Rasulullah SAW menyebutkan seorang lakilaki dari bani Israil membawa pedangnya untuk berjihad di jalan Allah selama
1000 bulan, maka orang-orang muslim merasa kagum dengan laki-laki dari bani
Israil itu, maka Allah menurunkan surat al-Qadar ayat 1-3. Sementara itu, sebuah
riwayat yang dikeluarkan dari Ibnu Jarir dari Mujahid, ia berkata: ada laki-laki
dari bani Israil yang pada malam harinya beribadah kepada Allah hingga pagi,
kemudian siang harinya ia berjihad melawan musuh sampai sore, hal yang seperti
itu ia lakukan selama 1000 bulan, maka Allah menurunkan lailatul qadar lebih
baik dari pada seribu bulan yakni amal yang dilakukan laki-laki tersebut.13
Sementara itu hal yang sama terdapat dalam Tafsir Al-Thabari, yakni:
“diceritakan kepada Ibnu Humaid, ia berkata, diceritakan kepada kita Hakkam bin
Salim dari Mutsanna bin As-Shabbah dari Mujahid, ia berkata: ada laki-laki dari
bani Israil yang pada malam harinya ia beribadah sampai pagi, kemudian siang
harinya ia berjihad melawan musuh hingga sore, maka hal yang seperti itu ia
lakukan selama 1000 bulan. Maka Allah menurunkan ayat: “malam lailatul qadar
lebih baik dari pada seribu bulan” beribadah pada malam tersebut lebih baik dari
pada amal yang dilakukan laki-laki tersebut.
Adapun Asbabun Nuzul mengenai surat al-Qadr yang berisi tentang
lailatul qadar sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Aziz Muhammad As-Salam
adalah sebagaimana yang tertera dalam riwayat Ibn Abbas bahwa Jibril a.s.
menuturkan kepada Rasulullah saw. Seorang pejuang tangguh bernama Syam‟un.

Ia pernah memerangi orang-orang kafir selama 1000 bulan. Dengan sekali tebasan
senjatanya, ia mampu membunuh banyak orang kafir. Begitulah yang ia lakukan
sampai usianya menginjak 1000 bulan. Dengan bantuan pengkhianatan istrinya,
orang-orang kafir dapat memperdayanya dan hendak membunuhnya. Akan tetapi,
Allah menyelamatkannya. Sebagai rasa syukur, ia beribadah kepada Allah. Malam
harinya ia gunakan untuk shalat, sedangkan siang harinya puasa.
Mendengar cerita itu, para sahabat menangis merindukan dapat melakukan
hal yang sama. Mereka bertanya, “wahai Rasulullah! Tahukah engkau berapa
banyak pahala Syam‟un?” beliau menjawab, “tidak tahu,” setelah itu, turunlah
surat al-Qadr. Jibril lalu berkata, wahai Muhammad, Allah telah memberimu dan
umatmu lailatul qadar. Beribadahlah pada malam itu lebih baik daripada ibadah
selama 1000 bulan.”15
Dalam riwayat lain, seperti yang terdapat pada kitab Muwattha‟ yang
Artinya: “dan diceritakan kepadaku ziyad dari malik sesungguhnya aku
mendengar dari ahli ilmu, sesungguhnya Rasulullah diberitahu rata-rata umat
manusia sebelumnya atau sesuatu yang dikehendaki Allah dalam hal itu, maka
seolah-olah usia umatnya sangat pendek jika dibanding dengan usia umat-umat
terdahulu, sehingga mereka tidak akan dapat menyamai amalan yang dicapai oleh
umat selain mereka yang memiliki usia lebih panjang. Maka Allah memberikan
kepada beliau dan umatnya lailatul qadar, satu malam yang lebih baik daripada
seribu bulan.16
Maksudnya adalah asbabun nuzul surat al-Qadr berawal dari Rasulullah
diceritakan dari jibril tentang pemuda Bani Israil yang berjuang di jalan Allah
selama 1000 tahun. Sehingga Nabi dan umatnya merasa kagum, namun umur
umat Nabi Muhammad sangat pendek sehingga tidak mampu menyamai amal

ibadah pemuda Bani Israil yang usianya relatif panjang. Oleh karena itu, Allah
menurunkan surat al-Qadr dan memberikan lailatul qadar, yang nilainya lebih
baik daripada seribu bulan yang digunakan oleh laki-laki Bani Israil untuk
berjihad dijalan Allah.
Adapun penulis mengatakan keterangan mengenai diturunkannya lailatul
qadar itu sama dengan masa pemerintahan bani Umayyah yang berkuasa hingga
1000 bulan tidak kurang dan tidak lebih itu adalah munkar. Karena 1000 bulan
adalah 83 tahun lebih 4 bulan, sedangkan bani Umayyah memerintah itu lebih dari
pada 1000 bulan. Dan lailatul qadar mengandung kebaikan urusan agama, tidak
mungkin disamakan dengan kebaikkan dunia, yakni masa keagungan bani
Umayyah saat memerintah.