PAKAIAN TAQWA: PAKAIAN TERBAIK DI SISI-NYA

PAKAIAN TAQWA: PAKAIAN TERBAIK DI SISI-NYA

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. al-A’raf [7]: 27)

Seiring bertambah jumlah keturunan Bani Adam, Allah memperingatkan agar tidak mengalami kejadian yang dialami moyangnya. Iblis laknatullah berhasil melancarkan tipu daya yang mampu mengeluarkan Nabi Adam dan Siti Hawa dari surga, maka tanggal atau lepaslah pakaian (yang disandangnya), sehingga terbuka auratnya. Iblis dan pengikutnya (sampai akhir zaman) senantiasa memantau dari tempat yang tidak terlihat, dan menawarkan diri menjadi pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

 

Allah memberikan perlindungan kepada Bani Adam berupa pakaian. Dalam firman-Nya Allah menyampaikan bahwa istri, malam, bahkan lapar dan takut adalah pakaian. Namun, dari seluruh pakaian yang diberikan, Allah memberikan pakaian terbaik di sisi-Nya. Inilah pakaian takwa. Sebuah pakaian yang menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

 

Menurut ilmu sosial, pakaian dikategorikan sebagai kebutuhan sandang. Artinya, kebutuhan yang tidak sebentar dipakainya, melainkan melekat dan menyertai seseorang di mana pun dan kapan pun. Melalui asumsi ini, maka kita bisa menarik kesimpulan, pakaian takwa senantiasa melekat/menyertai dan menjadi bagian/identitas diri seseorang.

 

Setiap orang senantiasa mendayagunakan akal pikirannya sebelum bertindak. Di ujung tindakan, seseorang menambatkan amalnya kepada orientasi yang membuatnya bertahan dan istiqamah saat beramal. Pakaian takwa hadir dalam dua hal penting ini: pola pikir dan orientasi. Dalam setiap ayat yang berkaitan dengan takwa, kita menemukan kata kitab dan akhirat (sisanya adalah ayat-ayat yang menjelaskan bahwa tujuan dari seluruh perintah Allah supaya bertakwa). Dengan demikian, kita simpulkan pakaian takwa adalah dasar dan tujuan yang dilandaskan dan ditambatkan pada kitabullah dan akhirat. Dengan kata lain, pakaian takwa adalah pola pikir qurani dan orientasi ukhrawi.

 

Berpola Pikir Qurani

Allah SWT menurunkan kitab al-Quran sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Ibarat pelita, seseorang tidak mungkin menentukan arah dan tujuan gerak, kecuali disesuaikan dengan kondisi yang ditunjukkan pelita tersebut. Melalui analogi ini, seorang yang berpola pikir qurani, tidak menjadikan produk logika (logis/tidak logis) menjadi landasan amalnya, melainkan (ditetapkan/tidak ditetapkan oleh) kitab.

 

Apakah pola pikir qurani berarti tidak perlu berpikir? Salah besar dan termasuk gagal paham. Al-Quran mengatur bagaimana cara mendayagunakan akal. Al-Quran menyampaikan bahwa orang yang bertakwa, ia senantiasa berpikir agar mendapat pelajaran dari setiap kejadian.

 

Berorientasi Ukhrawi

“Setelah hidup ada mati dan setelah dunia ada akhirat” atau “dunia tempat beramal sedangkan akhirat tempat memanen”, adalah dua kata mutiara yang selalu dipegang orang yang berorientasi ukhrawi. Karena keimanannya kepada akhirat, ia berusaha menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas amalnya. Ia pun selalu memastikan amalnya ada dalam keadaan benar dan maksimal.  Ia tidak melakukan perbuatan sembarangan. Ucapannya senantiasa kebenaran, adil saat memutuskan, dan memperbaiki kekurangan serta memaafkan. Jiwanya tidak tenang sebelum meminta ampunan. Dunia (beserta kesenangan dan perhiasannya) dimaknai sebagai permainan dan senda gurau saja, yang ia ambil hanya segenggam.

 

Demikianlah orang yang menjadikan takwa sebagai pakaiannya. Ia tidak tertipu dengan logika (yang terbatas) agar amaliahnya tercatat benar, dan berbuah istana yang ditempatinya di akhirat nanti, yaitu surga. Wallahu a’lam. **

Tinggalkan Balasan