Nikmat Lahir dan Batin

Ada sebuah kisah tentang tiga anak muda yang terhalang batu di dalam sebuah gua ketika sedang melakukan perjalanan. Singkat cerita, supaya dapat keluar mereka berdoa kepada Allah sambil menggandeng amal sholeh yang pernah mereka lakukan.
.
1. Pemuda pertama pernah berbakti dan menjaga adab terhadap orang tua. Ketika makan bersama, tidak pernah makan mendahului orang tuanya.
.
2. Pemuda kedua pernah menjaga diri dari perbuatan maksiat karena takut kepada Allah.
.
3. Pemuda ketiga pernah memelihara binatang ternak ketika karyawannya pergi. Kemudian menyumbangkan dan memberikan seluruh hasilnya kepada pegawainya ketika kembali.
.
Doa itu gandengannya amal sholeh. Kalau doa gandengannya dosa, maka dosa itu akan menjadi penghalang untuk doa.
.
Kenikmatan atau kebahagiaan itu ada pada ketaatan, bukan pada balasan ketaatan. Fokus kita itu pada taat, bukan pada balasan dari Allah.
.
“Ya Allah, aku bukan risau jika doaku tidak dikabulkan. Tetapi yang aku risaukan adalah ketika aku tidak Kau ijinkan untuk berdoa.” (Umar bin Khattab)
.
Ketaatan dibagi menjadi dua, yaitu dzahir dan batin. Misal dalam sholat, ketaatan dzahir berupa seluruh gerakan terasa nyaman dilakukan dan ketaatan batin merasakan ketenangan hati ketika dan setelah sholat.
.
Tidak ada syariat Allah kecuali di dalamnya terdapat hikmah dan kebaikan. Sulit untuk melihat hikmah tersebut, kecuali orang-orang yang yakin.
.
Ketaatan kepada Allah sepertinya tidak enak di awal, tetapi sebenarnya tersimpan kenikmatan setelahnya. Misalnya dalam tahajud, di awal terasa sangat berat, tetapi lama-kelamaan akan terasa nikmat dan berasa ada yang kurang jika terlewatkan.
.
Setiap manusia memiliki ujian sendiri-sendiri, tetapi yang pasti Allah tidak pernah mengingkari janji. Yakinilah bahwa ada masanya untuk berbuka. Seperti halnya saat berpuasa, kita merasa tenang karena yakin akan ada masanya untuk berbuka puasa.

Oleh Ustadz Riyadh

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Tinggalkan Balasan