You are currently viewing Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian)

Masalah Ash-Shulhu (Perdamaian)

Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matn Taqrib berkata:

وَيَصِحُّ الصُّلْحُ مَعَ الإِقْرَارِ فِي الأَمْوَالِ وَمَا أَفْضَي إِلَيْهَا وَهُوَ نَوْعَانِ: إِبْرَاءٌ وَمُعَاوَضَةٌ ، فَالإِبْرَاءُ : اِقْتِصَارُهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَى بَعْضِهِ وَلاَ يَجُوْزُ تَعْلِيْقُهُ عَلَى شَرْطٍ وَ المُعَاوَضَةُ : عُدُوْلُهُ عَنْ حَقِّهِ إِلَى غَيْرِهِ وَ يَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ البَيْعِس .

Perdamaian dalam persengkataan (ash-shulhu) adalah sah dengan syarat si terdakwa telah mengakui tuduhan si pendakwa, entah dalam harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta. Perdamaian ini ada dua macam: ibra’ dan mu’awadhah.

Ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat.
Mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli.

Penjelasan:

Ash-shulhu secara bahasa berarti memutus perselisihan.
Ash-shulhu secara istilah berarti akad yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan.
Hukum ash-shulhu adalah boleh, kecuali shulhu untuk mengharamkan yang halal ataukah menghalalkan yang haram. Allah Ta’ala berfirman,

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ

“Perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128)

Hikmah adanya ash-shulhu adalah memutus perselisihan antara dua pihak yang berselisih.

Macam-macam ash-shulhu:

Mendamaikan antara kaum muslimin dan kafir.
Mendamaikan antara seorang pemimpin dan pemberontak.
Mendamaikan antara suami dan istri.
Mendamaikan dalam interaksi muamalat sesama manusia.

Syarat sahnya ash-shulhu:

Terlebih dahulu ada perdebatan antara yang saling menuntut.
Mengakui tanpa ada pengingkaran atau diam, entah terjadi pada harta maupun masalah lain yang berhubungan dengan harta.

Ada tiga macam ash-shulhu

Ash-shulhu ini ada tiga macam: ibra’, mu’awadhah, dan hibah

Shulhu ibra’ adalah pendakwa menuntut ganti rugi hanya sebagian dari haknya. Ibra’ tidak boleh disertai syarat.
Contoh: Damai terkait utang sebanyak seratus juta rupiah, hanya diambil tujuh puluh juta rupiah.

Shulhu mu’awadhah adalah pendakwa menuntut ganti rugi dari barang asal dengan barang lain. Dalam hal ini berlaku hukum jual beli, yaitu berlaku khiyar majlis dan syarat.
Contoh: Damai terkait utang, di mana utang tersebut dianggap lunas diganti dengan mobil. Namun, lafaz yang digunakan adalah lafaz ash-shulhu.

Shulhu hibah adalah pendakwa menuntut haknya pada sesuatu tertentu, lalu diberi sebagiannya.
Contoh: Seseorang mengklaim bahwa rumah ini miliknya. Lalu yang dituntut tidak mengingkarinya. Damainya akhirnya yang dituntut mendapatkan separuh rumah. Separuh rumah itu sebagai hibah untuknya