Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Utsman bin Affan berkata,
“Seandainya hati-hati kalian itu bersih maka niscaya tidak akan pernah bosan membaca al-qur’an.”

Keutamaan Al-Qur’anAl-qur’an adalah ruh (kekuatan itu ada  pada al-Qur’an)
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(Asy-Syura: 52)

Kekuatan besar dari sentuhan Al-Qur’an ini dirasakan benar oleh para sahabat Rasulullah karena memang mereka menerima Al-Qur’an ini dengan segenap hati, pikiran dan kemauan mereka. Seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thobroni dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa ia berkata:

“Ketika turun surah Az-Zalzalah, maka serentak Abu Bakar yang sedang duduk waktu itu menangis. Maka Rasulullah saw. pun menghampirinya dan bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis wahai Abu Bakar?”. Surah inilah yang membuat aku menangis”.

Maka Rasulullah menenangkan dengan sabdanya:
“Jika kalian tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka Allah akan menciptakan kaum lain yang mereka itu melakukan salah dan dosa kemudian mereka bertaubat dan Allah mengampuni mereka.”

Alloh menjadikan memenuhi seruan-Nya dan seruan Rosul-Nya, dapat menghidupkan hati.
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
(Al-Anfal: 24)

Al-Qur’an Sarana Untukt Sabar (Teguh) Dan Istiqomah Dalam Agama Islam
Allah menceritakan bahwa Al Qur’an dapat meneguhkan hati orang-orang beriman dan Al Qur’an adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah Ta’alaberfirman,

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
(QS. An Nahl: 102)

Oleh karena itu, Al Qur’an itu diturunkan secara beangsur-angsur untuk meneguhkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat dalam ayat,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).
(QS. Al Furqon: 32)

Al Qur’an adalah jalan utama agar seseorang bisa terus kokoh dalam agamanya. Alasannya, karena Al Qur’an adalah petunjuk dan obat bagi hati yang sedang ragu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Fushilat: 44).

Qotadah mengatakan, “Allah telah menghiasi Al Qur’an sebagai cahaya dan keberkahan serta sebagai obat penawar bagi orang-orang beriman.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, “Katakanlah wahai Muhammad, Al Qur’an adalah petunjuk bagi hati orang beriman dan obat penawar bagi hati dari berbagai keraguan.”

Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an adalah Sifat Robbaniy
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: ‘Hendaklah kamu menjadi penyembah penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (dia berkata): ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’ Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai Rabb. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam.”
(QS. Al Imran: 79-80)

Rabbani adalah sifat yang mengumpulkan antara kapasitas ilmu, pembuktian amal, dan pengajaran ilmu (pengkaderan). Demikian ungkapan Al-Azhari, Imam Ahli Bahasa Arab (wafat 370 H) dalam Kitabnya Tahdzib Al-Lughah (14/225). Tiga komponen ini merupakan syarat mutlak yang harus ada dalam diri suatu ulama ataupun generasi yang mencapai derajat “rabbani”. Bahkan setiap poin dari ketiganya memiliki konsekuensi tersendiri yang apabila tidak tercapai maka sifat “rabbani” belum bisa disandarkan pada suatu generasi atau ulama. setelah menyebut definisi rabbani ini, beliau berkata: “Barangsiapa yang dalam dirinya kehilangan satu saja dari tiga poin ini maka ia tidak bisa disebut sebagai rabbani”. Jadi, seseorang/generasi/kelompok disebut Rabbani jika menggabungkan tiga ini secara sempurna. Sebab itu, tidak heran bila Imam Mujahid rahimahullah menyatakan bahwa derajat orang-orang rabbani berada diatas para ahbaar (para ulama). (lihat : Tafsir Al-Thabari : 6/542).

Derajat “rabbani” adalah sebuah gelar yang tidak sembarang bisa ditujukan pada siapa saja, bahkan banyak ulama yang tidak sampai pada tingkat ini. Tengok saja, Siyar Al-A’laam Al-Nubalaa karya Imam Al-Dzahabi, dari ribuan ulama dan tokoh-tokoh besar yang disebutkan oleh beliau dalam kitab ini, hanya sekitar 40-an ulama yang beliau sebut dengan julukan Al-Rabbani !!

Orang Yang Mengambil Pelajaran Dari Ayat-Ayat Al-Qur’an Adalah Orang Yang Berakal.

(Ulul Albab)

Kitab (Al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentaddabburi ayat – ayatnya dan untuk mengingatkan Ulul Albab.
(Qs. Shad[38]:29)

Sumber : hasmi.org

Tinggalkan Balasan