Cerdas dalam Memilih Antara Maslahat dan Mudarat

6 Hak dan Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Muslim Lainnya
27 November 2018
Amalan Penarik Rezeki Dalam Dunia Usaha
5 Desember 2018

Cerdas dalam Memilih Antara Maslahat dan Mudarat

Orang yang cerdas tidak selamanya mengambil semua hal yang baik, tetapi terkadang dia memilih mengambil pilihan yang terbaik di antara dua pilihan yang baik. Terkadang juga dia dihadapkan dengan dua mudarat (keburukan) sehingga ia mengambil yang mudaratnya lebih ringan.

Jika bisa mengambil yang terbaik di antara dua hal yang baik (maslahat) dan bisa mengambil yang lebih ringan dari dua hal yang buruk (mudharat), itulah orang yang cerdas.

👤 Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

ليس العاقل الذي يعلم الخير من الشر وإنما العاقل الذي يعلم خير الخيرين وشر الشرين

“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.” (Majmu’ Al Fatawa)

إن اللبيب إذا بدا من جسمه مرضان مختلفان داوى الأخطرا

“Orang yang cerdas ketika terkena dua penyakit yang berbeda, ia pun akan mengobati yang lebih berbahaya.” (Majmu’ Al Fatawa).

👤 Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-sa’di berkata :

فإن تزاحم عدد المصالح, يقدم الأعلى من المصالح وَضِدُّ تَزَاحُمُ المفَاسِدِ, يُرْتَكَبُ الأَدْنَى مِنَ المفَاسِدِ

“Apabila bertabrakan beberapa maslahat, maka Maslahat yang lebih utama itulah yang lebih didahulukan. Lawannya, jika bertabakan dua mafsadat (kerusakan), Pilihlah mafsadat yang paling ringan.”

Jika berkaitan dengan orang lain maka baik bagi kita memilih yang memberikan maslahat bagi orang lain tersebut.

👤Syaikh Muhammad bin sholih al-‘Utsaimin berkata :

الواجب على من تصرف لغيره أن يفعل ما هو أحسن أما من تصرف لنفسه فيفعل ما يشاء مما يباح له

“Bagi yang berinteraksi dengan orang lain, maka hendaklah dia melakukan yang maslahat (bagi orang lain). Adapun yang berinteraksi untuk dirinya sendiri, maka ia boleh saja melakukan sesukanya selama diperbolehkan.” (Syarhul Mumthi’)

أيا كان الاختيار بين الحالتين وتشعر بالقلق مع حقوق الآخرين، والسماح له اختيار فوائد أكثر خطورة على الآخرين، وليس اختيار في نفسه سوف

“Barangsiapa memilih di antara dua perkara dan berkaitan dengan hak orang lain, maka hendaklah ia memilih yang lebih maslahat bagi orang lain tersebut, bukan memilih sesuka dirinya.” (Syarhul Mumthi’)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

إذا صلى أحدكم للناس فليخفف، فإن منهم الضعيف والسقيم والكبير، وإذا صلى أحدكم لنفسه فليطول ما شاء

“Jika salah seorang di antara kalian menjadi imam, maka peringanlah shalatnya. Karena di antara jama’ah ada orang yang lemah, ada yang sakit, ada yang sudah tua. Jika kalian shalat sendiri, maka silakan perpanjangan sekehendak kalian.” (HR. Bukhori, HR. Muslim).

Contoh Cerdas Dalam Memilih :

1. Seseorang yang diundang oleh kerabatnya untuk menghadiri walimah yang pembuat acara walimah memiliki harta syubhat. Dan yang diundang khawatir bila dia tidak datang akan menyebabkan terputusnya hubungan kerabat (silaturrahim) maka pilihannya adalah wajib dia menghadirinya. Karena mempererat silaturrahim hukumnya wajib, sedangkan untuk tidak hadir hanyalah karena ada syubhat.

3. Seorang wanita tidak boleh berzina dengan alasan untuk mencari makan. Karena zina tidak dibolehkan kapanpun juga sekalipun dia mati kelaparan. Namun, dibolehkan dia memakan bangkai jika memang dalam kondisi kelaparan.

Sesuatu yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla secara mutlak seperti hal-hal yang jelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji (zina), baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allâh dengan sesuatu yang Allâh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui.” [al-Arâf/7:33]

4. Dalam keadaan darurat yang diperkirakan akan membawa kepada kematian bila tidak mendapat obat yang dimakan atau diminum selain yang terbuat dari bahan baku yang haram, seperti babi dan turunannya atau khamar dan turunannya, maka diperbolehkan untuk mengkonsumsi obat tersebut.

Berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allâh. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [al-An’âm/6:145]

Comments are closed.

Translate »
WhatsApp us
Visit Us On FacebookVisit Us On Instagram