artikel

Kita ini aneh.
Mau dunia-Nya, tapi ga mau deket sama Yang Punya Dunia.

Dikasih tau caranya mendekati sunia, sama Yang Punya Dunia, malahan ga percaya.

Yang Punya Dunia dayang, ke langit dunia-Nya, mendekati para pencari dunia, lalu menawarkan dunia, juga ampunan dan rahmat-Nya, tapi kita ngga mau menyambut-Nya.

Setelah datang pagi, ketika Pemilik Aslinya balik ke ‘Arsy-Nya, malah bertebaran sibuk mencari dunia.

Ada orang yang memberi modal buat kita, tapi sejak dikasihnya hingga kemudian hidup kita berubah, kita tidak mau menemui yang memberi modal, kira-kira bagaimana?

Ada yang meminjamkan kita rumah, tapi hingga kemudian kita beranak cucu, kita tidak pernah datang menemuinya. Kira-kira bagaimana?

Ada yang meminjamkan kita mobil, tapi hingga kemudian mobil itu rusak, kita tidak pernah datang menemuinya. Kira-kira bagaimana?

Di perusahaan, kita nih yang kerja, bukan orang keuangan. Tapi ketika kita menerima gaji, kita berterimakasih kepada bagian keuangan, orang yang sebenernya (secara manusianya) justru kalau kita ga kerja, dia ga kerja

Seorang tukang bekerja untuk rumah majikannya. Kenapa lalu tukang yang berterima kasih? Sebab udah dikasih pekerjaan?

Beragam pertanyaan saya tanyakan pada diri saya. Dan pertanyaan ini saya terus kembangkan. Dengan maksud, bertanya kepada diri saya sendiri tentang hubungan saya sama Allah. Allah memberi begitu banyak hal. Namun subhanallah, kita tiada mau dekat dengan-Nya. Berterima kasihnya kita, seadanya. Tidak imbang dengan apa yang diberikan Allah buat kita.

Coba aja cek yang berikut ini…
Tidur kita terlalu panjag, terlalu nikmat. Tiada mau bangun malam, atau tiada memanjangkan malam. Paginya kita jalani tanpa dhuha. Sekalinya dhuha, hanya syarat saja, 2 rakaat. Kemudian kita diajak zakat dan sedekah, kita keluarkan sebatas yang menjadi syarat saja. Enggan sepertinya mengeluarkan lebih buat Allah. Minimalis.

Kita jarang jamaah di masjid, yang karenanya suka hilang 4 macam shalat sunnah; shalat sunnah syukur wudhu, shalat sunnah tahiyyatul masjid, shalat sunnah qabliyah, dan shalat sunnah ba’diyah. Rumah Allah itu masjid. Tapi kita seperti males bener masuk rumahnya Allah. Kalo gliran ke rumah orang penting, kita rela mencari tahu siapa yang bisa menjadi koneksi kita ke sana, dan kemudian rela menunggu berjam-jam hingga si orang penting ini keluar. Tapi kalo ke rumah Allah? Udah suka pakai pakaian seadanya, juga lebih sering seperti orang buang hajat, kayak ga betah. Maunya buru-buruuu aja.

Hidup kita banyak sia-sianya. Padahal tahu bakalan mati, bakalan dihisab, bakalan ditanya, bakalan dikumpulkan di padang mahsyar, bakalan melewati titian jembatan shirothol mustaqim, bakalan berhadapan dengan Allah Yang Maha Tahu. Atau tidak tau? Tapi masa iya? Mungkin yang lebih tepat, tau tpai ga mikirin kali. Masa engga tau bahwa yang hidup bakalan mati. Tapi oke.lah mungkin benar ga tau, mudah-mudahan sekarang jadi tau. Repot bin susah jika hidup kita banyak sia-sianya, sedikit amal shalehnya, apalagi jika banyaaak maksiatnya. Maluuu sama yang sudah memberikan kita hidup dan kehidupan.

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesunguhnya manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) [QS. Ibrahim: 34]

Perhatikan dua ayat sebelum Allah mengemukakan ayat 34 Surah Ibrahim. Dua ayat ini Allah mengatakan benar-benar sudah memberi begitu banyak buat manusia.

Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan dari langit air hujan yang kemudian keluar dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Dan Dia telah menundukkan bagimu kapal agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia telah menundukan matahari dan bulan bagimu yang terus menerus beredar di orbitnya, dan telah menundukkan malam dan siang bagimu [QS. Ibrahim: 32-33]

Manusia itu senengnya mendzhalimi Allah dan melupakan Allah, sungguh ayat yang dahsyat. Hanya memang karena kedunguan kita, ayat itu menjadi “biasa saja”. Ga ngefek.

Kita ini manusia-manusia yang ga tau syukur. Dikasih sedikit, lupa diri, lupa sama Allah. Tengok aja lagi bait-bait di atas tadi. Seperti itulah kita. Punya telinga, ga mendengar. Punya mata, ga melihat. Punya hati, ga merasa. Allah kita cuekin secuek-cueknya. Barulah setelah kita kemudian ditimpa musibah, kita mengingat Allah. Ini masih bagus. Masih inget. Ada yang bablas sama sekali. Alarm hatinya ga jalan.

Kalau ditarik ke belakanga lagi, ke satu ayat sebelumnya yakni ayat 31

Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” [QS. Ibrahim: 31]

Inilah yang Allah suruh… shalat dan sedekah… tapi masya Allah, yang enteng ini ga dipilih, malah plih yang sulit, yang lebih dipilih sebagai jalannya.

Sebutlah si Fulan, menyiapkan dasinya yang bagus warnanya, cerah. Disesuaikan juga dengan motif kemejanya yang cerah pula. Disemprotkannya minyak wangi, dan kemudian minyak wangi tersebut dimasukkan ke dalam tas. Sebagai tanda kalau mungkin nanti akan dipakai lagi pada saat dibutuhkan. Sepatu pun sudah dalam keadaan mengkilap. Tak lupa, kaos kaku, sapu tangan, jam tangan, dipakai. Perfect.

Ia bersiap-siap bukan hanya sejak pagi hari. Tapi dari malam hari. Menyambut kedatangan hari di mana ia akan diwawancarai.

Ya “akan” diawawancarai…

Artinya, belum diwawancarai!

Masya Allah… segitunya. Terhadap yang belum memberikan apa-apa, baru sekedar informasi bakalan beroleh kesempatan kerja jika wawancara lulus sudah persiapan segitunya

Bahkan masih bertambah-tambah denga kumur-kumur pakai obat kumur! Takut-takut mulutnya bau. Masih plus-plus lagi dengan permen-permen pelega tenggoroan dan penghilang bau mulut dan nafas. Jika ia tidak punya kendaraan mobil, punyanya motor, maka ia rela merogoh koceknya untuk naik taksi!

Dan semua ini dilakukan untuk seorang yang belum memberikan apa-apa!

Sebagai ikhtiar, saya jelas tidak menyalahkan. Saya hanya membandingkan. Berkaca pada diri sendiri saja. Ya, bukan diri Saudara. Diri saya. Kira-kira, kalau saya menghadap Allah, pegimana? Seperti itukah saya? All-out? Habis-habisan?

Semua udah tau jawabannya, bahkan Allah di nomorduakan.

Lihat saja nih.

Oke lah, shalat subuh mungkin iya. Dia berdoa. Tapi shalat malam? Mungkin engga. Malah dihindari. Supaya ga ngantuk, dan fresh.

Sampe kantor di tempat wawancara akan berlangsung, ga sholat dhuha tuh. Takut dandanan rusak. he he he. Wudhu kan kudu ngelepas lengan tangan. Tar lecek. Padahal setrikaan udah dari semalam bolak balik. Dan digantung. Ga mau deket sama yang merokok, takut efek baunya nyantol.

Sebut aja wawancara akan berlangsung pas 5 menit sebelum adzan. Apakah kemudian berani menyetop wawancara untuk memenuhi panggilan adzan?

Rasanya, hanya yang sebutannya gendeng, yang ga butuh kerjaan yang berani menolak, atau izin untuk shalat dulu. Selebihnya, akan berniat untuk shalat setelah wawancara. Itu juga kalo niat, bagus, tanda mikirin. Ini, lupa sama sekali.

Ini nih, yang masuk kategori: Innal insaana ladzholuumun kaffaar. Duh, manusia itu bener-bener ga ada perhatiannya sama Allah! Allah loh yang mengizinkan surat wawancara itu dibuat dan dikirimkan oleh si kantor tersebut. Semua proses pembatan dan pengiriman surat panggilan wawancara itu dibuat atas kehendak, komando, dan pengawasan serta sepengetahuan Allah ‘Azza Aajalla. Lah ini malah dilupakan.

Ia juga lupa. Jika dihitung mundur sebelum hari H, maka yang mengizinkan ia bisa membuat surat lamaran pekerjaan dan memberikan kepadasekian perusahaan, sehingga ada yang nyangkut, juga adalah Allah. Ini juga dilupakan.

Dihitung mundur lagi… ia bisa membubuhkan Sarjana Ekoomi, Sarjana Teknik, atau Sarjana ini itu dipastikan semua atas pertolongan Allah. Maka sleuruh perjalanan dari ia dikandung badan, lahir, hingga kemudian pada saat momen wawancara nantinya, semua adalah Karunia Allah.

Dan Saudara tau? Siapa yang dilupakan untuk pertama kalinya?

Yang dilupakan pertama kalinya adalah ALLAH…!!!

Astaghfirullahal’adzhiim wa atuubu ilaih…

Tentu saja besarkan lagi contohnya. Perlebar lagi contohya. Saudara yang bermain proyek, atau pekerja, ya sama saja. Kalau sampe melupakan Allah, pasti hidupnya nanti bermasalah.

Bagi yang punya usaha, biasakan buka usaha, tanpa melupakan shalat malam sebagai awalannya. Lengkapin sama witirnya. Baca Al-Qur’an di penghujung malam, bertasbih, dan beristighfar.

Jika buka usaha sebelum subuh, atau berangkat sebelum subuh, perhatikan waktu shalat subuh. Ketika datang waktu subuh, ya tutup, jeda. Tutup atau jedanya juga jangan pas-pasan. Jedain 5-10 menit sebelum subuh. Jangan ampe kehilangan waktu subuhnya. Kenapa demikian? Sebab inilah rundown hidup yang benar.

Biasanya nuggu adzan baru tutup. Sedangkan nunggu adzan saja itu berarti sudah “memangkas waktu shalat. Paling tidak menunda untuk bergegas menuju shalat. Kurang sregep, begitu kata orang Betawi. Kalo nunggu adzan, iya kalo mesjidnya tinggal selangkah, kalo masjidna jauh dan qomatnya cepet banget, maka akan hilang “rundown” kehidupan. Putus rantai barang semata dua mata. Yakni shalat tahiyyatul masjid dan shalat sunnah fajar atau qobliyah subuh.

Apalagi kalau sampe telat atau malah ga shalat subuh, wuah ntar nih, dunia yang ga seberapa, didapat. Tapi subuh yang luar biasa, hilang dari pandangan mata dan terlepas dari genggaman tangan.

Itu untuk usaha yang bukanya subuh. Gimana kalo yang bukanya agak siangan?

Jika bukanya agak siangan, maka lebih menguntungkan. Di pagi hari setelah shalat subuh masih bisa jalan muter pulangnya, sebagai sunnahnya pulang dari masjid. Masih bisa silaturahim denan tetangga kanan kiri, khususnya tetangga yang dilalui pergi dan pulang ke masjid. Masih bisa makan nasi uduk dan bertemu warga. Seger kok. Nikmat.

Jika bukanya pagi, usahakan datang ke tempat dalam keadaan wudhu. Sempetin shalat sunnah dhuha sebelum berangkat. Baca sedikit wirid di waktu dhuha. Sedikit sedekah pagi. Baru deh jalan.

Nanti nih pas siang dikit, kuping awas dengan waktu dzuhur, tutup lagi. Seberapapun banyakanya pelanggan, seberapapun banyaknya customer. Betul itu. Seberapapun banyaknya klien atau tamu, wis, break dulu. Shalat dulu. Lebih dulu ketimbang sebutan ontime. Ontime mah masih pas-pasan. Ini mah lebih dari skeedar datang tepat waktu. Yakni datang di awal waktu.

Masya Allah saya nulis ini kayak bener aja ya? Doain saya dah ya.

Sebelum adzan zuhur udah ke masjid. Udah jalan ke masjid. Tinggalin dulu. Dan ga shalat dzuhur kecuali shalat sunnah dulu; tahiyyatul mashid, syukur wudhu, wabliyah, baru deh ngikut tuh dzuhur berjamaahnya. Kemudian tutup dengna yang manis, dengan dzikir ba’da shalat dan ba’diyah.

Ulangi di ashar, maghrib, dan isya.

Nanti tutup malam, sebagai laporan kepada Yang Memiliki Usaha dengan shalat sunnah 2 rakaat. Cakep.
Jika saudara udah punya duluan usahanya, maka ketika Saudara melakukan ini, Saudara udah disebut kaya betul dah. Yakni ketika Saudara bisa mengesampingkan urusan dunia untuk mementingkan urusan Allah dan akhirat. Usaha dunia mah ga bisa ke akhirat jika tuh usaha ga dibawa untuk bekal akhirat. Malah akan menyusahkan jika usahanya menjadi sarang kelalaian kita sama Allah.

Untuk saudara, para pebisnis, para pekerja, pikirin aja dengan keadaan diri Saudara, dengan mengambil i’tibar atau hikmah dari contoh usaha tadi.

sumber: yusufmansur.com

26 Maret 2018

Benerin Sikap Kita Ke Allah

Kita ini aneh. Mau dunia-Nya, tapi ga mau deket sama Yang Punya Dunia. Dikasih tau caranya mendekati sunia, sama Yang Punya Dunia, malahan ga percaya. Yang […]
23 Maret 2018

SEHAT DENGAN MEMBACA AL-QUR`AN

Al Qur`an adalah jamuan Allah; “Makdabtullah”. Inilah yang dilukiskan Nabi Muhammad SAW sebagaimana riwayat al-Bazzar. Semua umat Islam bahkan di luar Islam diundang untuk mencicipi dan […]
20 Maret 2018

Kentang, Telur, & Biji Kopi

Pada suatu hari, ada seorang anak perempuan yang mengeluh kepada ayahnya bahwa hidupnya sengsara dan bahwa dia tidak tahu bagaimana dia akan berhasil. Dia lelah berjuang dan […]
15 Maret 2018

Sahabat dan Shalawat Nabi

  ما رأيت احدا يحب احدا. كحب أصحاب محمد محمدا. Maa roaitu ahadan yuhibbu ahadan. Kahubbi ashabi Muhammadin, Muhammadaa Saya ga pernah melihat seorang pecinta yang […]
Translate »
WhatsApp us
Visit Us On FacebookVisit Us On Instagram