artikel

Saat ditanya untuk apa kita bekerja mencari nafkah?

Kebanyakan kita akan menjawab : “Kerja untuk ibadah Seraya membacakan firman Allah ta’ala,

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” [QS al-An’am: 162]

 

Tetapi pada prakteknya banyak yang melenceng dari kaedah ayat di atas. Banyak yang tidak seimbang antara kerja dan beribadah kepada Allah.

Apa kita sadar sering menomor duakan Allah? Bagaimana kita harus memperbaiki diri menjadi pekerja dunia dan juga akhirat? Sehingga seluruh pekerjaan kita bernilai ibadah dan di Ridhoi oleh-Nya

  1. Jadikan Shalat Yang Paling Utama.

Sering kita terlalu sibuk berkerja atau rapat sehingga kita meng-akhirkan Shalat kita. Bila kita melihat apa yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sabdakan

 

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Pokok seluruh perkara adalah Islam dan tiang penopangnya adalah shalat” [Shahih, HR. Tirmidzi: 2825]

 

Sebuah bangunan bila tidak memiliki pondasi yang kuat dan kokoh tidak akan mampu menopang seluruh bangunan tersebut, begitu juga perkara pekerjaan kita. Sungguh percuma bila kita bekerja hingga kaya tetapi masih menomor duakan Allah.

    2. Hanya Mencari Yang Halal.

Sering kita tidak sadar bahwa rezeki yang kita dapat, yang kita berikan kepada keluarga kita, tidak jelas asal-usulnya. Bahkan mengarah kepada yang haram. Sedangkan “efek domino” yang kita berikan kepada keluarga kita sungguh besar.

“Efek Domino” di mana apa saja yang haram dan syubhat akan dikonsumsi istri kita, kemudian anak kita, hingga mengalir ke cucu kita. Sungguh kita harus berhati-hati akan apa yang kita berikan kepada keluarga kita, seperti yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sabdakan agar kita berhati-hati akan apa yang kita dan keluarga kita konsumsi.

 

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka yang lebih berhak baginya” [Shahih, HR. Ahmad: 3/321, at-Tirmidzi: 614]

Demi Allah, jika seorang muslim hidup dalam keadaan fakir hanya cukup dengan memakan sepotong roti, tinggal di dalam keadaan mulia, damai, tentram, dikabulkan do’anya, diterima amalnya dan selamat dari apu yang menyala-nyala. Itu lebih disukainya dan lebih mulia daripada hidup di dalam istana yang bergelimang harta dan makanan haram.

Sungguh, sebagai seorang Muslim kita harus bekerja sebagai Ikhtiar kita. Tetapi juga kita tidak melupakan Siapa yang memberikan kita rezeki. Tetap nomor satukan Allah di atas apapun dan siapapun, Insyaa Allah, rezeki kita akan Allah berkahi seluruhnya.

25 Januari 2017

KERJA (ITU) IBADAH

Saat ditanya untuk apa kita bekerja mencari nafkah? Kebanyakan kita akan menjawab : “Kerja untuk ibadah Seraya membacakan firman Allah ta’ala,
22 Januari 2017

Ustad Yusuf Mansur : Hijrah

Makna Hijrah itu dari yang belum Dhuha bisa sholat Dhuha.. Dari yang belum bisa Tahajud bisa sholat Tahajud. Dari yang telat sholat berjamaah menjadi tidak hanya […]
14 Januari 2017

Sedekah Jodoh

Seorang laki-laki datang saat saya buka konselingan di daerah Cilacap. Sekian tahun silam. “Saya belom punya jodoh.” Saya lalu bilang, dengan izin Allah ni cerita, “Beli […]
10 Januari 2017

Amalan Ringan yang Besar Pahalanya

Kaum muslilmin yang dirahmati Allah, diantara yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kita adalah rutin mengamalkan amalan shalih meskipun amalan itu sedikit dan ringan, […]
Translate »
WhatsApp us
Visit Us On FacebookVisit Us On Instagram