artikel

 

Andai al-Qur’an bisa bicara mungkin ia berkata:

“Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku. Dengan wudhu’ aku kau sentuh, dalam keadaan suci Aku kau pegang.

Kau junjung dan kau pelajari. Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari. Setelah usai engkau pun selalu menciumku mesra.

Sekarang engkau telah dewasa. Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku. Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah. Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu. Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja? Sekarang aku engkau simpan rapi sekali. Hingga kadang engkau lupa dimana menyimpan aku.

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu. Kadang kala aku dijadikan mahar, mungkin hanya sebagai pelengkap, entah. Atau aku dibuat penangkal katanya untuk menakuti setan.

Kini aku lebih banyak tersingkir. Dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian. Di atas lemari.. di dalam laci… aku engkau pendamkan.

 

Dulu pagi-pagi, surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman. Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu.

Sekarang… pagi-pagi engkau baca koran pagi atau tonton berita TV. Waktu senggang Engkau sempatkan baca buku karangan manusia.

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa. Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan. Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu. Setiap saat berlalu, kuranglah jatah umurmu.

Tidakkah kau tahu, bila engkau sedih maka akulah pelipurmu, pesan-pesan dari Allah yang akan menenangkanmu. Apakah kau lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin atasmu tidak tersesat selama mengikuti dan mengamalkan aku? Maka bagaimana engkau bisa mengamalkan aku jika saja membacaku engkau telah enggan?

Tahun berlalu tahun…

Dan akhirnya kubur senantiasa menunggu kedatanganmu. Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu. Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati.

Di akhirat nanti Aku akan datang sebagai pembelamu di hadapan Allah. Bukan koran yang engkau baca yang akan membantu dari perjalanan di alam akhirat. Tapi akulah al-Qur’an kitab sucimu.

Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu, keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu, sentuhlah aku kembali.

Baca dan pelajari lagi aku, setiap datangnya pagi dan sore hari.

Seperti dulu… dulu sekali waktu engkau masih kecil, lugu dan polos, jangan biarkan aku sendiri dalam bisu dan sepi.”

Sumber : Majalah Sedekah Plus

27 Agustus 2017

Andai al-Qur’an Bisa Bicara

  Andai al-Qur’an bisa bicara mungkin ia berkata: “Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku. Dengan wudhu’ aku kau sentuh, dalam keadaan suci Aku kau […]
22 Agustus 2017

7 Hikmah dan Keutamaan Qurban Idul Adha

Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa, Hari Raya Idul Adha, dimana di hari itu dan hari tasyrik dilakukan penyembelihan hewan qurba. Jika Anda belum memutuskan […]
19 Agustus 2017

The Power of Tawakal

IBADAH tawakal sebagai salah satu bentuk ibadah hati memiliki pengaruh signifikan bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya di dunia. Seperti apa pengaruh tawakal? Sebagai contoh, ambil satu […]
15 Agustus 2017

Rajin Bersedekah, Mudah Memaafkan dan Menahan Marah

Renungan yang sangat berharga untuk kali ini, الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik […]
Translate »
WhatsApp us
Visit Us On FacebookVisit Us On Instagram