Bekal Untuk Pulang

Kebaikan Menghantarkan Untuk Meninggalkan Maksiat
28 Januari 2019
Bersungguh Dalam Menghamba Kepada Allah SWT
12 Februari 2019

Bekal Untuk Pulang

Setelah memuji Allah ﷻ dan bersholawat kepada Rasulullah ﷺ, beliau menyebutkan firman Allah ﷻ

إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجࣲ نَّبۡتَلِیهِ فَجَعَلۡنَـٰهُ سَمِیعَۢا بَصِیرًا
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
[Surat Al-Insan 2]

Dari ayat ini menunjukkan bahwa Allah yang menciptakan manusia dengan maha kuasaNya. Allah mampu menciptakan manusia dari nutfah yang sebelumnya tidak ada. Sehingga Allah juga mampu menghidupkan manusia setelah manusia mengalami kematian. Namun perkara ini jarang diperhatikan oleh manusia.

Kampung manusia sebenarnya adalah akhirat, dan permukaan bumi hanyalah persinggahan yang akan ditinggalkan.
Allah berfirman :

كَأَنَّهُمۡ یَوۡمَ یَرَوۡنَهَا لَمۡ یَلۡبَثُوۤا۟ إِلَّا عَشِیَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا
Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.
[Surat An-Nazi’at 46]

Ayat ini menjelaskan bahwa hari di dunia jika dibandingkan dengan hari di akhirat adalah sangat sebentar.

Allah juga berfirman :

وَیَسۡتَعۡجِلُونَكَ بِٱلۡعَذَابِ وَلَن یُخۡلِفَ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥۚ وَإِنَّ یَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةࣲ مِّمَّا تَعُدُّونَ
Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
[Surat Al-Hajj 47]

Dalam ayat lain, Allah juga menjelaskan bahwa hari kiamat juga sangatlah dekat. Karena Allah memandangnga dengan hari dalam perhitungan akhirat.
Allah berfirman :

إِنَّهُمۡ یَرَوۡنَهُۥ بَعِیدࣰا * وَنَرَىٰهُ قَرِیبࣰا
Mereka memandang (azab) itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).
[Surat Al-Ma’arij 6 – 7]

Oleh karenanya, disaat usia manusia yang singkat di permukaan bumi ini, Allah memberikan ujian yang akan menentukan dimana tempat manusia kehidupan kelak di akhirat. Sehingga, diusia yang singkat ini apa yang akan dilakukan manusia untuk menyiapkan kehidupan yang sangat panjang di akhirat. Karena manusia tidak akan bisa mencari bekal di akhirat, karena akhirat adalah hari pembalasan.
Para ulama menjelaskan :
الدنيا دار العمل والأخرة دار الجزاء
“Dunia adalah tempat beramal, dan akhirat adalah tempat pembalasan”

Maka manusia yang yakin bahwa dunia adalah tempat untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan akhirat, mereka akan bersungguh-sungguh dalam mencari bekal. Namun, mereka yang tidak percaya bahwa akhirat adalah hari pembalasan, maka mereka tidak akan mencari perbekalan untuk kampung akhirat.

Dalam sebuah hadits qudsy, Allah berfirman :

إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ .
Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (Riwayat Muslim)

Maka seandainya Allah turunkan balasan di dunia ini, tidak akan ada satupun makhluk yang tersisa di muka bumi ini.
Allah berfirman :
(وَلَوۡ یُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُوا۟ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَاۤبَّةࣲ وَلَـٰكِن یُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ مُّسَمࣰّىۖ فَإِذَا جَاۤءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِیرَۢا
Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
[Surat Fatir 45]

Intinya, hidup manusia di permukaan bumi hanyalah singkat, mungkin hanya1 jam atau 2 jam. Sehingga dengan usia yang singkat ini, maka hiduo manusia di bumi adalah untuk mengambil bekal. Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa.
Allah berfirman :

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَیۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ یَـٰۤأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
[Surat Al-Baqarah 197]

Allah juga berfirman :

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
[Surat Al-Hashr 18]

Sehingga tujuan manusia hidup di bumi, adalah untuk mengambil bekal sebanyak-banyaknya yakni dengan bersabar dalam bertaqwa dan taat kepada Allah yang hanya 1 atau 2 jam.

Bayangkan jika ada seorang yang dipanggang dalam neraka hanya 7 hari, maka hidup di dalam neraka selama 7 tahun. Maka logiskah ketika orang menyiakan waktunya di dunia selama 1 atau 2 jam untuk diadzab ribuan tahun di akhirat?

Maka sadarilah, bahwa semua manusia harus sabar di atas ibadah dan ketaatan yang hanya 1 atau 2 jam di muka bumi, karena ia tidak akan sanggup untuk bersabar di akhirat. Padahal kelak ketika manusia telah sampai pada kehidupan akhirat, semua manusia langsung akan mengetahui seluruh yang mereka kerjakan.
Allah berfirman :

عَلِمَتۡ نَفۡسࣱ مَّاۤ أَحۡضَرَتۡ
setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.
[Surat At-Takwir 14]

Dalam ayat lainnya, Allah berfirman :

عَلِمَتۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ وَأَخَّرَتۡ
(maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang diakhirkan.
[Surat Al-Infitar 5]
via @QuranAndroid

Salah satu makna apa yang telah dikerjakan dan yang diakhirkan sebagamana dibawakan oleh Imam Ath-Thabari adalah :
Semua manusia ingat kepada seluruh yang ia kerjakan selama ia hidup, ia juga bisa tahu seluruh dosa dan maksiat yang mengalir sejak ia hidup di dunia. Karena akan ada dosa yang terus mengalir meskipun orang yang berdosa tersebut sudah meninggal.

Oleh karenanya, di kehidupan kita yang sangat singkat ini hendaklah kita bersabar sejenak untuk kebahagiaan yang tiada putus.

Setelah sampai di akhirat, tidak ada yang bisa disalahkan dari maksiat kecuali diri kita sendiri. Maka cita-cita penduduk mahsyar yang akan dimasukkan ke dalam neraka adalah minta kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia untuk beramal sholih.

Allah berfirman :

وَلَوۡ تَرَىٰۤ إِذِ ٱلۡمُجۡرِمُونَ نَاكِسُوا۟ رُءُوسِهِمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ رَبَّنَاۤ أَبۡصَرۡنَا وَسَمِعۡنَا فَٱرۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَـٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.”
[Surat As-Sajdah 12]

Maka jangan sampai kita menjadi orang-orang seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut, yang mereka minya untuk dikembalikan di dunia setelah mereka bisa yakin ketika sudah sampai di akhirat. Dan keyakinan tersebut sudah sia-sia.

Imam Hasan Al Bashri berkata :
Aku tidak pernah melangkahkan satu langkah kakiku pun, kecuali aku pikirkan apakah langkahku ini di atas ridho Allah atau di atas maksiat

Rasulullah bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ،
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam
(HR Bukhari, Muslim)

Allah juga telah mengabarkan tentang bagaimana manusia yang tidak meyakini hari pembalasan kelak di akhirat

Allah berfirman :

وَهُمۡ یَصۡطَرِخُونَ فِیهَا رَبَّنَاۤ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَـٰلِحًا غَیۡرَ ٱلَّذِی كُنَّا نَعۡمَلُۚ أَوَلَمۡ نُعَمِّرۡكُم مَّا یَتَذَكَّرُ فِیهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ ٱلنَّذِیرُۖ فَذُوقُوا۟ فَمَا لِلظَّـٰلِمِینَ مِن نَّصِیرٍ
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.” (Dikatakan kepada mereka), “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zhalim tidak ada seorang penolong pun.”
[Surat Fatir 37]

Maka, cita-cita penduduk neraka adalah agar mereka dikembalikan di dunia, dan kita sedang berada disini. Sehingga manfaatkanlah kesempatan untuk beramal shalih yang sangat dicita-citakan oleh penduduk neraka

Ketika kita ingin membangun amal shalih sebagai bekal kita di akhirat, ada 2 perkara penting yang harus diperhatikan oleh seorang manusia, yakni :
🔰 Perhatikan terus bahwa apakah amalan yang kita kerjakan sudah benar-benar sesuai dengan contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tidak semua orang yang sholat, namun ia tetap masuk neraka.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ِ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
“Celakalah bagi tumit-tumit yang tidak basah akan masuk neraka.” (HR Bukhari)

🔰Hendaklah selalu ikhlas dalam beramal.
Dalam hadits qudsy, Allah menjelaskan bahwa amalan yang dilakukan seorang hamba namun ia masih berbuat kesyirikan, maka Allah tidak akan menerima amalan tersebut.

Allah juga berfirman :

هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِیثُ ٱلۡغَـٰشِیَةِ * وُجُوهࣱ یَوۡمَىِٕذٍ خَـٰشِعَةٌ * عَامِلَةࣱ نَّاصِبَةࣱ * تَصۡلَىٰ نَارًا حَامِیَةࣰ
Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?, Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina, (karena) beramal lagi kepayahan,mereka memasuki api yang sangat panas (neraka),
[Surat Al-Ghashiyah 1 – 4]

Ayat ini menunjukkan bahwa banyak amalan yang tidak diterima Allah.
Dan para ulama menjelaskan bahwa 2 hal inilah yang menjadi syarat diterimanya amalan disisi Allah azza wa jalla.
Oleh karenanya, ajakan agar manusia beramal mengikuti sunnah dan menjauhi syirik merupakan ajakan kasih sayang, karena ajakan ini adalah bertujuan agar amalan kita diterima oleh Allah.

والله أعلم بالصواب

Oleh  Ustadz Maududi Abdullah, Lc

Barakallahu fiik

Comments are closed.

Translate »
WhatsApp us
Visit Us On FacebookVisit Us On Instagram